Story of Us – Pt. 1// Top Secret

(lagi males ngedit poster hehehehe)

Story of us

Sehun x Jessica

Romance-School life

PG+15//Chapter

Mine, ofc. Just enjoy it.

“Jatuh cinta itu… konyol ya?”

_____________________

Top Secret

Langkah kakinya semakin cepat beriringan dengan setiap detik yang terbuang, sepasang bibir merah mudanya tak henti-hentinya bergerak—menyumpahi apapun yang menghalangi langkahnya. Manik coklatnya bergerak, menilik tak sabar ke arah rambu-rambu lalu lintas. Ia kembali bergerak dengan cepat saat lampu itu berubah menjadi hijau.

 

“Jangan!” Pekiknya nyaring saat pintu gerbang itu hendak ditutup oleh penjaganya. Ia lantas berlari, menghampiri dengan cepat pintu itu. “Jangan ditutup pak!” ujarnya terengah-engah. Penjaga itu menatapnya garang. “Kamu telat 15 menit! Bel pertama sudah berbunyi!” sahutnya galak.

 

Jessica—gadis itu—meringgis pelan, kemudian memasang wajah memelasnya. “Rumah saya jauh pak, dan tidak ada yang mengantar pagi ini. Kasihanilah saya pak,” melasnya. Penjaga itu menatapnya penuh selidik, “Saya mohon pak.”

 

Penjaga itu mendengus, kemudian membuka pintu gerbang sekolah itu. Memberikan celah untuk badan gadis itu bisa melewatinya. “Cepatlah sebelum saya berubah pikiran,” Jessica menunjukkan senyuman senangnya seraya berlari melewati gerbang, “Terimakasih, pak!” serunya seraya berlari.

 

Langkahnya terhenti, ia perlu asupan oksigen sekarang setelah berlari selama sepuluh menit tanpa henti. Ia lelah, dan mengantuk. Gadis itu kemudian menatap jam tangannya, sudah terlalu terlambat untuk masuk ke dalam kelas. Senyum culas terukir sempurna di wajah cantiknya. “Bolos sesekali tidak apa-apa,” ujarnya pada diri sendiri.

 

Ia lantas memutar arah langkahnya, menuju atap gedung sekolah. Tempat strategis untuk bolos. Diletakkannya tas sekolah miliknya tersebut sebagai bantalan, kemudian ia membaringkan tubuhnya di posisi senyaman mungkin. Ia menghela nafasnya, matanya sudah berat. Dampak begadang tadi malam. Tak perlu waktu lama, ia sudah terlelap. Terlebih ketika sapuan sang bayu membuatnya semakin nyenyak. Hanyut dengan tidurnya.

 

 

______________

 

“Ahn Gayoung?”

 

“Hadir!” laki-laki itu lantas mencentang absen gadis tersebut, kemudian kembali melanjutkan absen setelahnya. “Ahn Hana?”

“Hadir!” Ia kembali mencentang seraya melanjutkan bacaannya. “Jessica Jung?”

 

Hening.

 

Keningnya mengerut saat tak ada satupun yang menyahut. “Jessica Jung?” ulangnya seraya mendongak. Menatap kurang lebih tiga puluh wajah kebingungan. “Mana Jessica Jung?”

 

“Tidak tahu songsaengnim,” sahut salah seorang siswa. “Mungkin tidak masuk, songsaengnim.” Tambah seorang siswi lagi. Laki-laki itu menganggukkan kepalanya sedikit ragu. Kemudian maniknya kembali menabrak buku absen, mulai mengabsen kembali murid-muridnya.

 

“Kim Mingyu?” seorang siswa mengangkat tangannya, “Hadir.” “Kim Taehyung?” “Hadir.” Dan seterusnya hingga absen terakhir. Kendati demikian dia tetap gamang seraya memandang bangku kosong yang ada diujung. Bangku Jessica.

 

Dia mendengus tak kentara, kemudian mengganti buku absennya dengan buku pelajarannya. “Ya anak-anak, kita lanjutkan pelajaran kita. Buka halaman 108.” Ujar Sehun—songsaengnim itu. Para murid lantas membuka bukunya, dan memulai pelajaran fisika dengan tenang. Sangat tenang.

 

___________

 

“Aku pulang!” seru gadis itu dengan semangat seraya menutup kembali pintu rumahnya. “Habis darimana?” Jessica terdiam, mengernyitkan keningnya heran dengan pertanyaan itu. Ia lantas meletakkan sepatu sekolahnya dengan rapi di rak sepatu, bersebelahan dengan sebuah sepatu kerja milik seseorang yang baru saja bertanya dengannya.

 

Ia lantas menoleh, menatap kearah laki-laki yang masih memandanginya ingin tahu. Menanti jawabannya, “Sekolah, tentu saja.” Jawabnya santai seraya memakai sandal rumah dan meletakkan tas sekolahnya di sofa. “Sekolah? Jadi kau bolos pelajaranku?”

 

Jessica terpaku, mengerjapkan matanya lalu melotot. “Hari ini ada pelajaranmu!?” serunya kaget, kemudian menelan ludahnya takut-takut. Sehun mendengus, kemudian bangkit dari duduknya dan melangkah menuju Jessica. “Jadi benar kau bolos?” tanyanya tepat di depan wajah Jessica, mengintimidasi. Jessica melangkah mundur selangkah, Sehun lantas mengetuk kepala Jessica lalu bersedekap. Gadis itu meringgis, mengusap kepalanya yang baru saja menjadi korban.

 

“Hukuman untukmu karena bolos, kau sudah tahu apa tugas dari saya?”

 

Jessica melotot—untuk kedua kalinya—lalu melenguh sebal, “Tugas? Lagi?” keluhnya. Sehun mengendikkan pundaknya seraya menyerahkan kertas tugas yang baru saja dibuatnya kepada Jessica. “Salahmu kenapa kau bolos.” Ujar Sehun acuh tak acuh kemudian berbalik, melangkah pergi meninggalkan Jessica.

 

“Aku terlambat gara-gara dirimu!” kesalnya seraya memandangi punggung simetris Sehun yang kian menjauh dari jarak pandangnya. Ia menoleh, menatap kertas laknat ditangannya dengan sebal. Sehun takkan membiarkannya tidur sebelum tugas ini selesai, dan itulah alasannya mengapa akhir-akhir ini dia sering bangun terlambat dan berangkat sekolah terlambat. Jessica mendengus seraya mengambil tasnya ganas, melangkahkan kakinya dengan langkah yang sengaja dihentak-hentakkan. “Dasar, suami kejam!” gerutunya keras. Berharap Sehun dapat mendengarnya dari kamar laki-laki itu.

 

Ya. Mereka—Sehun dan Jessica—adalah sepasang suami-istri yang sah, baik dimata agama maupun secara hokum. Mereka menikah karena perjanjian kolot kedua orangtua mereka. Tak peduli Jessica yang masih duduk dibangku SMA dan Sehun guru fisika di SMA yang sam. Sehun tak pernah mencintai gadis itu, sementara Jessica tak pernah keberatan mengakui kalau dia cinta mati kepada Sehun. Tinggal seatap, berbeda kamar. Itulah mereka. Dan itulah ‘top secret’ mereka, rahasia yang mereka simpan dengan rapat. Tak seorang rekan maupun sahabat yang tahu. Hanya Tuhan, orangtua mereka, pastor, dan juga mereka yang tahu ini. Karena, mereka takkan membiarkan satu orang ‘pun tahu.

 

______________________

 

“Bagaimana mengerjakan ini!?” kesal Jessica karena tak kunjung menemukan jawaban dari soal yang diberikan oleh Sehun. Sehun melirik hasil kerjaan Jessica, kemudian mendengus. “Cari lengan torsinya dulu, bodoh.”

 

Jessica mendelik, tidak terima dipanggil bodoh oleh Sehun. Perempuan itu lantas kembali mengerjakan tugasnya dengan hati dongkol. Mencari lengan torsi sesuai perintah Sehun. Sehun mengulum senyumnya, terhibur dengan raut sebal Jessica.

 

“Mengapa fisika sulit sekali dimengerti!? Bahkan perempuan tidak sesulit ini untuk dimengerti!” gerutu Jessica jengkel. Sehun terkekeh, “Kau harus menyukai fisika dulu, setelah itu fisika akan mudah untukmu.” Bibir gadis itu merengut—mencembik cemberut. “Bagaimana bisa aku menyukainya? Fisikanya saja sepertinya membenciku. Aku bahkan rasanya alergi terhadap fisika!”

 

Sehun tertawa, “Kalau begitu, kau harus sukai dulu gurunya.”

“Sudah.” Sahut Jessica mantap, “Hah?” bingung Sehun. Ia kemudian cemberut saat Jessica menatapnya, ia mengerti arti tatapan itu. Jessica menumpu dagunya dengan kedua tangannya, melemparkan senyuman manisnya untuk Sehun. Memainkan alisnya menggoda. “Aku sudah menyukai guru fisikanya dari dulu kok.” Ujarnya seraya menampilkan deretan giginya yang rapi.

 

Sehun mendengus, lelaki itu lantas mendorong kening Jessica dengan telunjuknya. “Lanjutkan saja pekerjaanmu.” Suruhnya. Jessica mengerucutkan bibirnya sebal. “Dasar suami tidak peka! Harusnya tanggapanmu tidak seperti itu! Tapi ‘aku juga menyukai muridku yang satu ini kok’ atau ‘aku lebih menyukaimu, Jessica-ya’ bukan menyuruhku melanjutkan ini.” Gerutunya sebal. Sehun hanya membaca bukunya, tak memberikan tanggapan apapun untuk gerutuan Jessica. Membuat Jessica semakin jengkel, gadis itu lantas meletakkan kepalanya dimeja.

 

“Apa salahku menyukai laki-laki batu sepertimu!?” Sehun hanya membuka halaman baru bukunya, “Lanjutkan pekerjaanmu.” “Dasar suami tidak romantis sepanjang sejarah dunia!” gerutunya lagi. Manik laki-laki itu bergerak, membaca setiap kata yang tercetak dibukunya. “Lanjutkan pekerjaanmu jika kau tidak ingin terlambat besok.”

 

“Baiklah! Baiklah, aku melanjutkan pekerjaanku!” sungutnya seraya kembali mengerjakan soal fisika. Sehun menggelengkan kepalanya, seraya menahan tawanya.

 

_____________________________

 

Jessica dengan segera menghabiskan rotinya saat melihat Sehun sudah beranjak meninggalkan meja makan, kemudian berlari menyusul Sehun.

 

“Suamikuuuu~ Tunggu aku!” seru Jessica seraya memasang sepatu sekolahnya terburu-buru, Sehun berhenti. Kemudian menoleh kearah gadis itu, lalu mendengus pelan. Tak perlu waktu lama, Jessica sudah berada di sampingnya. “Nah, ayo berangkat!” ajak Jessica semangat seraya merangkul lengan Sehun. Dengan segera Sehun mendorong wajah Jessica, menjauhkan Jessica darinya.

 

Sehun berdehem, Jessica cemberut. “Saya ini guru kamu.” Ujar Sehun datar, “Panggil saya ‘songsaengnim’.” Jessica merengut, mengerucutkan bibirnya. “Tapi suamiku terdengar lebih baik daripada songsaengnim.” Sahutnya. Sehun menatapnya datar. “Itu lebih menjijikkan.” “Itu tanda kepemilikan.” Sahut Jessica cepat.

 

Sehun mendengus, dia tahu. Dia takkan menang jika berargumentasi dengan gadis labil didepannya ini. Ia menghela napasnya, “Berangkat sana, nanti kau bolos lagi.” Ujar Sehun mengganti topik—setengah menyindir. Jessica meringgis gara-gara Sehun menyindirnya terang-terangan. “Yasudah, Ayo.” Ajak Jessica seraya melangkah lebih dulu ke mobil Sehun.

 

Sehun mengernyit, menahan gadis itu. “Maaf? Ayo?” ulangnya bingung. Jessica menampilkan deretan giginya, “Ayo berangkat sama-sama.” Dengan cepat Sehun menggelengkan kepalanya. “Kau naik bus saja.” Suruhnya. Jessica menggelengkan kepalanya keras seraya memajukan bibirnya—pout. “Tidak mau.” Tolaknya langsung. “Kita itu harus menghemat uang—“ “Saya tidak pernah keberatan membiayai uang bus mu.” Potong Sehun cepat. Asalkan tak menumpang denganku—lanjutnya dalam hati.

 

Jessica memandang Sehun, “Jadi kau menyuruhku naik bus?” tanyanya, Sehun menganggukan kepalanya mantap. Jessica memegang dada kirinya, “Suami macam apa yang membiarkan istrinya yang cantik jelita ini naik bus sendirian di tengah keramaian bus? Bagaimana kalau ada orang jahat yang ingin menculik istrinya? Apalagi istrinya itu manis sekali.” Ujar Jessica mendramatis. Sehun tak peduli.

 

Jessica mendengus, tak habis akal. “Kira-kira kalau mertuaku tahu, apa yang terjadi ya?” Tanya Jessica pada dirinya sendiri seraya mengeluarkan ponselnya. “Pasti dia kecewa karena tahu anaknya—“
“Ayo saya antar kamu.” Potong Sehun cepat. Sehun kalah. Benar-benar kalah. Senyum Jessica mengembang, dengan cepat gadis itu melesat masuk ke kemudi penumpang. Sehun menggelengkan kepalanya. Setengah takjub mengapa ada perempuan seperti Jessica dan setengah heran mengapa orangtuanya menjodohkannya dengan perempuan seperti ini.

 

“Suamiku! Ayo berangkat jika kau tak mau aku bolos lagi!” teriak Jessica seraya mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil. Sehun mendengus seraya memutar matanya jengah. “Panggil saya ‘suamiku’ sekali lagi, kamu saya tinggal di jalan.” Ancam Sehun seraya melangkah masuk ke dalam mobil.

 

“Baiklah suamiku eh songsaengnim hehe.” Ujar Jessica seraya cengengesan. Sehun mengedikkan bahunya, memilih mengabaikan gadis yang berada di sebelahnya ini. Sementara Jessica sudah senyum-senyum seraya memandangi wajah tampan Sehun.

“Kira-kira apa tanggapan teman-temanku ya ketika tahu songsaengnim mengantarkanku.” Ujar Jessica, Sehun melirik. “Tidak ada, karena saya akan turunkan kamu seratus meter dari gerbang sekolah.”

Jessica menoleh, “Kenapa kau jahat sekali sih!?” gerutunya seraya meletakkan kepalanya ke dashboard mobil. Sehun diam, fokus menyetir. Sementara Jessica hanya bisa menggerutu di tempatnya.

 

_____________________

Sesuai janji, ini story of us-nya wkwk. Buat yang sudah tahu, makasih udah baca ulang wkwk. Hope you like it, guys. Tunggu ff saya yang lain ya ❤

 

9 pemikiran pada “Story of Us – Pt. 1// Top Secret

  1. Wah thor FF-nya bagus bgt aku suka sama jalan cerita-nya apa lagi sama karakter Jessica yg teralalu bersemangat,cerewet+ceria. Tapi aku gak suka sama Sehun yang terlalu kaku :-* . But wait mereka menikah? Cooss dapt suami kayak Sehun yang kaku abis+terlalau jauh dengan namanya “Kekinian” and berprofesi sebagai guru Fisika lagi dimana ntu pelajaran jadi musush bebuyuytan semua murid seperti Jessica. Poor Jessica. XD
    Duh gak tau deh gimana Jessica ngejalanin itu semua utk kedepannya. Pasti langsung nyerah mah,kalau gak ingat bahwa wajah Sehun itu tampan. Wkwkwkwkwk. Selalu tunggu FF kamu yang lain juga terutama untuk kelanjutan FF yang ini. Kalau bisa word-nya ditambahin ya!!.

  2. Aduhh sehun… bahasanya baku bangett dahh… kasian eon akuu… sabar yaaa eon… ff ini pasti happy endending kokk :v /sotoy
    Aku selalu nunggu author… eh salah ff nya juga :v

  3. Udh nikah aja mbak jess wkwk. Suka banget sma ff yg author bikin. Japan ceritanya bagus banget. Jessica cute bgt haha
    Next chap ditunggu ya thor

  4. aku suka banget nih…
    tapi kok sehun cuek gitu yah.. tega nih ama istrinya. kebayang aja kalau ada namja yang deketin sica, apa dia bakal cemburu?

    NEXT dong… chapt 2 nya mana?

What Do You Think?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s